Posts

Showing posts from 2017

ciu

terhanyut dalam lamunan ciu bibir dan gelas saling beradu kelakar tawa menambah sahdu lantunan hening yang dirindu mata merah bukan amarah bercanda riang kian mesrah berat kepala tak dirasa saat bersama kallian semua sloki demi sloki menagih janji meringankan penat dan benci senyum lebar tanpa tujuan sejenak larut dalam lamunan

srikandi hari ini

senyum simpul di ujung bibir tak dapat menyingkap tabir hari-hari penuh dengan tawa namun duka memeluk mesra beban hidup setia di pundak demi masa depan sang anak hari berat kau lalui demi meraih apa itu mimpi engkau bagai srikandi maju perang tanpa gelati mekar melati kadang layu namun tidak dengan dirimu semerbak dari ujung pagi hingga malam menjemput lagi engkau bagai srikandi maju perang tanpa gelati ::isp

jarak pandang

pagi ini seeperti biasa awali hari denga kopi di meja namun tak begitu di rumahmu kawan riuh ramai sejak pagi dari malam untuk mempersiapkan akad mu untuk mempersiapkan ijab mu semoga kobul terucap lancar darimu beragam serahan kau siapkan hiasan indah mahar kau berikan berpenampilan sesempurna mungkin untuk memberikan mas kawin masa lajang mu kau sudahi semoga bahagia dalam mahligai kelak nanti hanya itu yang bisa ku beri sebait doa dalam puisi untuk mengakiri masa lajang mu ini #samawa_choiri

ts

hembusan sendu sang angin pilu membawa diriku pada lamunanmu remang sinar cahaya rembulan temani raga menuju hayalan gemerlap bintang tawarkan keindahan berselimut malam bersanding kegelapan buai embum menusuk sumsum temani lelapku dengan senyum dan akhirnya awanpun datang menutupi gemerlap beribu bintang tampak gelap tanpa penerangan terus bertahan dalam cobaan mata sayuh bibir bergetar menahan dingin tanpa suar nyanyi lirih suara kodok meghisap seluruh asap rokok

entahsiapa

dua kali berjumpa dua kali bertatap muka senyum riang ujung bibir membuat darah cepat mengalir tak tau siapa namamu tak tau apa statusmu satu dua kata saat berjumpa mungkin sudah membuat ku bangga kadang ku lupa raut wajah mu namun kau slalu menari dalam benaku entah mengapa aku suka melihat perilakumu yang terbuka langkah demi langkah ku tarap hingga pintu itu tertutup rapat terbisik dalam hati suatu saat pasti ketemu kembali #lala

inikahmerdeka

apakah ini yang dinamakan kemerdekaan yang dulu pernah di perjuangan tumpah darah penuh pengorbanan para pejuang meregang nyawa demi tanah air INDONESIA bersanding dengan alunan merdu sang biduan melafalkan lagu terhipnotis belasan botol arak sang pemuda saling jingkrak bukan itu kawan bukan itu yang seharusnya kalian rayakan yang seharusnya kalian rasakan mungkin ruh ruh para pendahulu terisak tangis berselimut haru melihat kalian menenggak ciu mereka mengumpat mengapa dahulu bersedia merelakan nyawaku

sajak sepi

sajak sepi tertelan gelapnya malam berirama sumbang berbait kelam rangkaian kata melahirkan makna yang tersirat tak mampu terbaca sajak sepi tergerus serpihan angin birahi memucak memaksa menulis sajak raga rapuh tak berselimut kain ribuan kata hilang dari dalam benak tak lama untuk menulis barisan kata mulai menangis tak bermakana bak mencaci dari inilah terlahir sajak sepi

langkah

berbinar mata mulai basah waktu tak pasti membuat resah seakan raga tak mampu rebah umpatan bersanding mesra dengan keluh kesah mata tak mampu menampung pilu basah terurai sajak sendu sesak dan pengap menyelimuti kalbu bagai raga rapuh tanpa baju gederang usia di tabuh beralun lirih lamban yang konsisten dengan waktu hingga tua tak mampu ku tolak

kian jauh

sebisik suara rindu singgah senyap di telinga mengingatkan masa dulu kita bersama semerbak aroma wangimu singgah betah di rongga hidungku mengingatkan masa dulu kita berdua cangkir dan cangkir bersanding mesra espresso dan cappuccino betah berdua banyak tawa sedikit duka menemani malam senyap penuh canda sekian lama kita tak berjumpa baikkah kabarmu di ujung sana hanya lewat kata kutulis rindu berjuta kenangan indah bersamamu

Rumasakitumum

wajah kusam para penghuni lorong bilik bersekat kain tiada yang kosong deretan infus beegantung serasi dengan selang menetes dengan perlahan menjemput harapan tak peduli usia ras maupun suku berbaring tenang dengan pilu wajah pucat berharap lekas sembuh meskipun keluarga berkumpul dengan riuh kadang tangis menhiasi sudut telinga dari mereka yang di tinggal tak rela meskipun lebih dulu ke nirwana banyak dari mereka yang tak tega ada pula yang sendu di sudut pintu memikirkan biaya yang tak menentu berharap cemas tak membengkak namun itu demi kesehatan mutlak kesan sosial sangat terasa pada bilik ruang berkelas A namun yang terjadi di kelas ini berserakan nyawa vampire tak terurusi jeritan kaum bawah mulai lelah terdengar sendu membuat resah keadaan ataukah kesengajaan mana janji mu para aktor kesehatan

poluson

tak berfikir saat lelah bukanlah sesuatu yang salah namun akan kecewa di ujung hari mentari mulai sirna sang dewa tak akan berpihak sang malaikatpun juga selak melihat orang tak berfikir melihat mereka terjungkir senyum kecut di ujung pipi melihat penderitaan dalam negri mereka apakah tak peduli sejuta pertanyaan dalam hati kau juragan negri kita tak peduli dengan sesama menghidupkan diri adalah cita cita sesama mati urusan mereka pohon pohon menangis pilu bungan dan rumput jua terharu dengan pemikiran manusia rancu reboisasi tak terealisasi bukan bukan aku namun kadang menggertak kalbu meskipun tak mau mengaku dalam hati kecil berkecamuk pilu

SAMAOMYWA

Ramai datang sanak saudara merayakan hari bahagia teman dan sahabat saling berdoa semoga menjadi keluarga samawa hari hari bujang kulalui sekarang engakau beristri masa lajang gak mungkin kembali namu masadepan indah menanti sering bersenda kita gurau bersama seperti mengigagau statusmu kini berbeda suami adalah gelar yang kau punya jangan samakan dulu dengan sekarang saat engkau berstatus bujang anak orang yang engkau pinang harus dan wajib kau buat senang hanya sebait kalimat yang bisa aku buat untuk menanimu di singgasana saat sehari menjadi raja samawa omy

Pulang

senyum lebar sang pengelana melihat riuh keluarga sekian taun tidak diruma akirnya dia pulang juga Kaki tertatih melintas aspal bergerak jengkal demi jengkal tak tau entah kapan sampai dan sekarang harapan tercapai derai air mata membanjiri pipi yang tidak tau bagai ironi sebenarnya ini jawaban dari doa ingin kumpul dengan keluarga tak terbendung rasa rindu bertahun tahun tak bertemu ingin pulang hanya kisah pilu namun kini akirnya bersatu begitu pula dengan keluarga sangat senang dan bahagia seorang yang pergi lama kini hadir di pelukan mereka begitulah segelintir cerita pengalaman pengelana muda yang sudah lama tak diruma dan akirnya pulang juga

Perlahan Pergi

luas dunia ini knapa kamu yang kucari bukan dari materi namun ini luapan hati bernah diriku berpaling untuk memilih yang lain namun itu tak sebanding dengan penantian yang sia sia mungkin mulai lelah keadaan semakin resah saat pikiran gundah namun mencoba tabah matahari selalu bersinar berjalan perlahan menuju petang begitu juga kilauan dirimu kian hari kian hilang namun aku mulai sadar meskipun sulit tanpa bersandar ku pegang erat bagai jangkar agar dirimu tidak memudar memang bulan begitu terang namun kadang kilauan wajahmu yang menyinari ku dalam petang berjuta bintang berbaris indang dan tak selalu rapi begitu pula kau puan manis kadang hadir dalam sendiri

WAKTU ITU

liar berjalanya waktu maju tanpa ragu tak berhenti ataupun menunggu tak peduli dengan diriku yang telah usang usang termakan jaman terkikis sepoi angan yang tak sampai tujuan waktu adalah misteri yang tak tau apa yang akan terjadi bahkan sore di hari ini karena waktu hanya sang tuhan yang tau

pena usang

dimana aku kemana aku aku yang dulu seperti ujung pena yang selalu tajam yang selalu meninggalkan bekas banyak waktu ku lewat kian hari kian tak pasti hilang diri yang sejati berganti dengan duplikasi kurang kesibukan membuat menjadi bimbang kurang kegiatan kadang menjadi edan bukan menyalahkan waktu namun diri ku yang tertinggal tak mampu untuk mengejar sehingga hidup ini tanpa arti menjadi manusia mubah ada tak papa gak ada pun tak jadi apa sungguh hina hina bagi keluarga karena aku masih mencari diriku yang dulu

KREMBIS

sesak didada selalu terasa saat berpisa tapi entah mengapa aku selalu mengulanginya dia bukan milik ku dia bukan hak ku berjuta alasan selalu ku ungkapkan saat dilarang mungkin hanya sebatas teman tapi sanubari tak demikian apakah ini hanya efek perpisahan ataukah rasa yang terhalang jalinan jalinan pertunangan yang semoga menuju ke jenjang pernikahan mungkin itu doa yang baik baik bagi mreka dan bukan aku

WalangSangit

sombong mu kian tinggi mennjulang tanpa tepi pada teman tak peduli namun tetap saja iri jalan terbuka lebar engkau tinggal melangkah tapi kenapa teramat susah jawaban mu adalah pasrah bila pasrah setelah berusaha tak ada kata merdeka bahkan butuh beribu-ribu usaha untuk bisa merdeka apa kau tak sadar banyaknya pengangguran sedangkan jalan mu tetbuka lebar tapi engkau terbaring di zona nyaman bila begitu tak perlu iri apa yang di dapat teman mu nanti yang  berjuang sampai ujung hari hingga terbang kelangit tinggi

PakTua

Pak tua tidur di bibir jalan Berbantal sebelah tangan terjaga aman oleh kaleng usang berharap sang dermawan datang menyisihkan sebagian hartanya tuk mengisi kaleng usang tua entah karena apa entah karena mengapa atau mungkin entah karena siapa tetap bekerja di usia semua tak ada yang tau sebabnya tak di hiraukan sudah biasa kadang mereka berburuk sangka bahkan ada yang tega menghina di manakah keluarga di manakah buah hatinya yang tega membirkan yang tega menelantarkan

TangisanFajar

telah lama tak berjumpa dirimu tak terlupa seseorang yang telah mengisi satu ruang di sudut hati tersenyum kecut ujung bibir mengingat kenangan indah bersama kau yang pertama mengajari ku apa itu yang di namakan cinta fajar ini aku mendapat kabar tentang apa yang tak terduga turut sedih hati terasa saat engkau pulang kepangkuanya sedikit doa yang bisa ku bisikan menemani langkah mu menuju nirwana semoga dirimu dapat diterima tanpa hisab yang memberatkan dosa untuk mu yang disana MELANI V.

takuyatmu

sembari diam sang pendosa tetap berfikir akan hidup ini masih adil, terpaku dalam alunan sendu sang pendosa kian sayu, di depan deretan botol arak sang pendosa berteriak adil kah negriku saat rakyat ku menjadi babu pengangguran merajalela tak peduli SMA atau Sarjana kemiskinan mulai hilang di imbangi dengan gaya hidup tak seimbang mereka berteriak kekurangan hanya untuk melunasi cicilan hari ini tak ada orang lapar karena tak berfikir dengan nalar tak makan gak peduli yang terpenting adalah gengsi negriku kian lucu saat para pekerja mudah di tipu negriku kian jatuh saat rakyatku mulai rapuh pemerintahan tak peduli yang terpenting dapat komisi rakyat mencari makan sendiri tak peduli haram dan halal lagi sudahh

malam

dibawah riuhnya sang bintang yang bernyanyi dengan riang aku duduk merenung dan sambil memandang ke arah mereka sungguh besar penciptanya hingga tak terbayangkan oleh nalar

negri

luka negri melihat rakyat saling berkelahi luka negri saat rakyat saling mencaci negri menagis karena rakyat sangat sadis tega menghakimi tampa hakim tega menyiksa tanpa jaksa tega membela tanpa pengacara negri ini kaya saat rakyat tau apa itu tenggang rasa negri ini hebat bila rakyat tak saling bersebat negri ini indah jika rakyat tak saling menjilat hanya doa yang bisa kami nyanyikan untuk kemanjuan negri ini hanya hujat yang bisa kami ungkapkan untuk mengusir kemunafikan para predator uang rakyat

KONFLIKGURASI

banyak cerita yang kulalui ada suka ada sakit hati namun ku tetap percaya diri suatu saat aku akan berdiri pernah ku mencoba menolong mereka tapi entah mengapa mereka tak menyadarinya ku tetap berusaha menjalin teman dengan mereka meskipun ku kadang menjauh karena mereka tak acuh banyak janji yang di ingkari terus merusak otak kiri sabar dan sabar adalah kunci sampai kapan akan di akiri hidup memang seleksi yang tak pantas akan mati berusaha sampai nanti hingga hidup di akiri toleransi mulai hilang saat berjumpa dengan uang tak butuh kamu telah di pinang tenggang rasa kini terbang ingin mulut untuk menghina namun hati ini tak tega melihat keadaanya semoga saja mreka bahagia tangan lusuh mulai mengepal tnaga penuh kami lontarkan berharap engkau terpental kian jauh dan tidak kenal kata teman itu kiasan untuk mereka yang di suka saat hina mereka di tinggal apa lagi saat sengsara

CINTAH?

rasa yang menguap dari hati tak sengaja ter hisap oleh nalar dengan sengaja memupuk rasa rasa cinta terhadap sang puan logika tak akan berfungsi saat cinta merajai menembuh dari dalam nurani lewat bibir langsung dari hati senyuman mu tak tegantikan merdu suara yang kau ucapkan akan selalu terniang dalam telingan tanpa sadar bagai candu kian menderu rasa hati selalu menggebu kilauan mata kian sendu saat berhubungan dengan rindu ada saatnya kita jenuh mengecap hubungan makin keruh rasa raga ingin jatuh namun aku ingat penjuangan muh

CERCA

secerca tinta akan menodai selambar kertas akan tetapi gak berati bila tinta dan kertas saling memiliki begitu pula dengan manusia yang akan saling menghina bila satu sama lain saling mencela tak akan ada damai tak akan ada cinta bila manusia saling menindas yang ada hanya sengsara yang ada hanya curiga sesungguhnya kita bisa akur saat toleransi di junjung tinggi saat tanggung rasa tetap di jaga saat sesama manusia saling percaya kadang alam mulai geram melihat ulah manusia yang selalu sarapan meghabiskan hutan dan alam sesungguhnya aku pun sama cuma kesempatan yang berbeda ibarat aku jadi kalian mungkin aku yang serakah sebisa mungkin aku mencoba untuk jauh dari itu semua karena alam sungguh bijaksana memberikan semua yang mereka punya

test lag

dulu ku sering durhaka tak peduli apa yang kau kata meskipun kau slalu memaksa tetapi aku tak mendengarkanya tak lelah dirimu menasehati untuk menjadi orang berarti aku beranggapan hanya jalan ini yang benar dan dapat kulalui reff aku salahhhh karna slalu durhakaa akuu kliruuu karna tak mematuhimu akuu sedi karna dulu tak berbakti kini ku menyesal dan hanya bisa menghayal tentang baik budimu tentang nasehat mu u hanya doa doa yang bisa ku nyanyikan sebagai wujud baktiku kepadamu back to reff

ENTALHAH

suatu hari aku duduk di ujung ruang melihat suasana sekitar terlihat mereka bahagia bersama sekedar bergurau di jam istirahat mungkin waktu itu tak ada arti karena kerasnya hidup belum terjadi bunyi bel memecah telinga pelajaran yang ku benci telah tiba duduk rapi mereka semua entah paham atau tidak urusan mereka tetapi aku yakin di balik kebencian ini suatu saat akan berarti

SREK

otak tak lagi berfikir nurani terasa getir bibir manis tersenyum nyinyir melihat keadaan sekitar yang selalu berputar entah berotasi terhadap apa yang aku tau mereka perlahan sirna pengangguran dimana mana lowongan kerja tidak ada peluang usaha kian sirna tanpa modal tak bisa apa apa mimpi mimpi mulai hilang terbawa ombak ke lautan bimbang tak peduli malam atau siang tuntutan hidup selalu menantang waktu terus melaju dengan garang tak peduli akan usia semakin matang kian hari kian terbuang

BERSAMA

mereka bersama tapi bukan kebersamaan tapi bukan kemesraan tapi buka keromatisan namun mereka bersama hanya sebagai kata raga merka berdekatan jiwa mereka melanglang kelihatanya berkumpul kelihatanya bergaul namun sesungguhnya merka terpisah jauh kebersamaan yang mereka katakan adalah kesendirian yang kalian lakukan bersama

SATUMEI

tawa riang para pekerja sejenak lupa akan problema meskipun seharian berusaha kata lelah telah sirna saat teringat pada keluarga mereka selalu bertanya kapan akan merdeka mereka selalu bertanya kapan tidak sengsara bukan kaya akan harta dan bukan juga mobil mewah hanya sesuap nasi untuk anak istri dan itu harus setiap hari kalo biaya sekolah negara yang menaggung bila mereka sakit tak sudi penyakit singgah

Jenuh

pagi menjelang mentari kan datang menyabut hari panjang berharap hari tetap riang tetap merasa senang dan selalu dapat di kenang meskipun ini hanya angan usang gelisah menyapa di setiap pagi sampai kapan ini terjadi gelisah yang selalu menghampiri gelisah yang selalu menakuti tentang tanggung jawab pada diri dan tanggung jawab pada insan di sekitar kami berat raga beranjak bangkit dari nyenyak tidur mimpi sulit hanya air dingin sebagai penyemangat di tambah sedikit panas surya menjilat kulit dan berharap ada secangkit kopi pahit untuk memulai rangkaian proses.penat yang kian sulit

Dera Air Mata

langit meneteskan air mata mengiringi dukamu sedihmu segera sudahi hidup tidak sampai disini banyak hal harus kau capai doakan setiap waktu karena itu kewajibanmu untuk mengiringi jalanya menuju singgasana yang berada di nirwana tuhan tidak tidur beliau tau seluruh doa2 yang selalu di panjatkan setiap waktu belum lagi saat tengah malam melantunkan syair2 doa untuk ketiga anaknya tercinta beliau meninggal bukan benci pada mu kawan tapi biliau menyampaikan setumpuk doa mu kepada tuha n

Doa

kau dekap habis semua syair doa dari seorang ahli agama berharap bisa merubah merubah nasib yang kian terpuruk akan kah engkau tau bahwa doa itu bisa jadi bukan untukmu karena mereka menggunakan bahasa yang berbeda karena mereka memanfaatkan kesengsaraan yang kau punya hanya sedikit dari mereka yang iklas menyalurkan doa itu pun bila ada kertas yang berharga sadarlah setiap kata adalah doa dari dalam hati lebih berarti asal selalu di imbangi usaha entah sebentar atau lama doa akan terkabul hubunagan paling erat adalah manusia , alam dan tuhan bukan manusia, orang , uang dan tuhan

Kerja

sinar rembulan membasahi sekujur tubuhku kerlip bintang memenuhi pandangan ku sepoi angin menyejukan kalbu sepi tenang merasuk kedalam jiwa asap putih senantiasa menemani istirahat bekerja dari pagi namun aku jenuh bila mendengar esok kerja lagi tetapi aku sadar bila tak kerja mau berbuat apa banyak yang berharap dari jeripayahku dan usaha

Long Weekend

riuh jalan bising di telinga tangisan bayi mentakitkan dada karena ribuan mesin menyala dan asap masuk keparunya dengan memaksa mereka hanya ingin pulang untuk menjenguk kampung halaman berkumpul dengan sanak keluarga setelah sekian lama di kota orang dapat pulang bila libur panjang entah bekerja atau di jajah bisa pulang bila libur itupun bila tidak di paksa lembur hampir semua cita2 hancur lebur

Janur Kuning

hanya sebatas ucapan semoga tidak benarr karena ucapan itu tajam anggap tidak bahagia disana iklas ucapmu saat itu pilihan tuhan ujarmu entah tuhan mana entah tuhan apa ada yang bilang tuhan lebih dekat dari urat nadi berarti tuhan berada dalam diri dan tuhan berada di dalam nurani nurani yang tak tercampur nafsu nurani yang tak tercampur nalar bukanya aku memaksa untuk mengikuti rasa tapi aku berharap jangan berfikir harta dan jangan ada rasa terpaksa dalam di hari bahagia mungkin hanya dengan doa yang bisa aku persembahkan di hari bahagia 8 April 17'

Cita-Cerita

sentuhan lembut embun pagi semagat untuk mengawali hari meski realita tak sesuai nurani tetap jalani karena proses alami berat rasa meninggalkan singgasana untuk bangkit dan mulai bekerja kerena itu kewajiban semua manusia kadang tak sesuai dengan cita-cita pernah ku gantung setinggi langit meskipun tau menggapainya sulit karena itu adalah cita-cita yang tak akan tercapai tanpa usaha

Diam

Image
diam itu menggagumkan diam itu berlian diam itu tenang diam itu kenangan tapi kadang diam jahat tapi kadang diam pahit tapi kadang diam sempit tapi kadang diam pelit jahat karena tak berkata pahit karena tak bicara sempit karena tak akrab pelit karena tak bersahabat

Nah

pengangguran merupakan profesi yang paling berat di jalani, karena setiap hari berfikir keras namun tak ada yang menggaji

Ahhh

dunia memang sempit sesak terasa terhimpit tinggal sedinding enggan menyapa entah lupa atau sengaja sulit hidup di tengah kota kian hari terasa tersiksa mencari makan harus membabu rela dihina dan malu sedikit uang kami dapatkan bahkan kurang untuk makan orang tua menunggu di desa menanti rejeki yang berkah

Hidup Lebih Baik

terdiri atas  --Personality, --Community and      --Life.  Berikut penjelasannya:    A.  PERSONALITY: 1. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui. 2. Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif 3. Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda. 4. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna. 5. Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip. 6. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat tertidur). 7. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda. 8. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini. 9. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci. 10. Berdamailah dengan m...

Miko

Apa salahnya Sehingga dia mendapat bencana Apakah sang pencipta murka Apakah hal tidak sengaja Terinveksi itulah dia Tak ada obat dia menderita Namun semua itu telah terjadi Akibat dari pergaulan diri sendiri Yang liar dan terlalu  free Sesungguhnya ingin menangis Karna idup orang tua dipundaknya Karena tulang punggung  jabatanya Meskipun kerja berat dia tak mampu Dia tetap semangat untuk itu Andai dulu dia tidak menuruti nafsu Mungkin tak kan terjadi seperti itu    

Rayuan Tadjwid

Dik, saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah... hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar... Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati di antara idgham Bilaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada... Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang... Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta... Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain... melebur jadi satu. Cintaku padamu seperti Mad Lazim ... Paling panjang di antara yang lainnya... Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro.. terpantul-pantul dengan keras... Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.. Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran... Buanyaaakkk beneerrrrr.... Semoga dalam hubungan, kita ini kayak idgham Bilaghunnah ya, cuma berdua, Lam da...

Rasan-krasan

riuh mulut berbusa ramai ramai mengumbar dosa gemuruh caci itu biasa lirik sekitar cari mangsa mencari kesalahan sesama hal ini hanya di miliki manusia apa hanya terjadi disini atau mungkin seluruh negri mungkin juga dunia ini manusia saling mencaci andai telinga bisa bicara pasti akan tertawa tertawa karena gila karena caci maki mereka

Tinta dan Hidup

jarum beradu dengan kulit beribu tusukan tak membuat sakit karena pilihan ini memang sulit tapi mereka memandang pahit rajah tubuh bukan kriminal bukan juga karena nakal apalagi nafsu binal ini bagian dari seni mural jalanan yang ku pilih semua orang merasa risih meskipun Teresa perih namun bagiku banyak kasih

Elemen

bumi mulai enggan melihat pengangguran tiap hari cuman ngayal ingin menjadi terkenal angin juga bosan melihat pengagguran kerjanya cuma tiduran berharap bisa ambil peran air pun demikian melihat pengangguran setia pada bantal ingin sukses tanpa usaha api mulai geram melihat pengangguran tak mau berusaha namun berharap kaya

Remeh

hanya sebatas uang kami rendah di pandang kadang kami di tendang pendapat kami di tentang apakah karena harta kami harus memuja apakah karena harta kami harus menyemba bukan itu yang kami mau kami tak butuh uangmu tidak harta hanya satu hilangkan sifat sombongmu tenggang rasa dan saling membantu

Duka Mu

Dikala mentari tenggelam Air mata mulai tak tetahan Jatuh deras bagaikan hujan Tulang lemas tanpa sandaran Melihat sosok kaku di depan mata Dengan siapa mereka bercanda Dengan siapa mereka tertawa Dengan siapa mereka berbagi cerita harimu yang berat telah berhenti Meninggalkan banyak kenangan di hati Karena engkau sosok yang mereka hormati Sebagai tulang punggung anak istri Hanya doa yang bisa kubaca Untuk pengiring mu ke alam sana Langkah kaki terasa berat Mengantar mu keliang lahat Terasa hati belum bisa rela Melihat mu di atas keranda Dan semoga itu menjadi singgasana Di alam sana dan senantiasa disisinya.                   Sabar kawan   Kos, 26,03,16

Malam Dingin

Diantara gelapnya kopi Bulan tetap menyinari Dingin angin serasa menusuk hati Di tengah malam yang sunyi Dan semua orang sibuk bermimpi Kelip bintang melirik di atas kepala Suara jangkrik yang bercanda Suasana tenang merasuk ke dalam jiwa Meskipun hanya peratap tenda Dengan ini kami bangga

Lewat Tengah Malam

riang jankrik bersautan saling menyapa atau menantang di iringi sepoi angin menusuk tulang dalam sepi sang jangkrik berdendang sendiri menunggu pagi esok entah apa yang terjadi apakah hal yang tidak pasti namun dengan yakin ku tata mimpi malam ini untuk menyambut esok hari semoga lebih baik dari hari ini di balik ribuan daun sang rembulan lemparkan senyum di balik ribuan daun sang bintang berantakan tak teratur sudah menjadi tanda akan kuasanya yang maha esa sudah menjadi bukti yang tak pantas di i ngkari

Menanti Senja

duduk di ujung hari tak membuatku sepi karena ada yang aku nanti meskipun itu belum pasti tapi aku yakin akan terjadi bergerak pelan ke ujung bumi seluruh daratan engkau sinari cahaya kuning emasmu matahari sedih rasanya saat mendung menghampiri dengan sepenuh hati dengan sepenuh hati berharap angin akan membantu membatu kilau mu tetap berseri berseri di ujung hari