Posts

Showing posts from August, 2017

entahsiapa

dua kali berjumpa dua kali bertatap muka senyum riang ujung bibir membuat darah cepat mengalir tak tau siapa namamu tak tau apa statusmu satu dua kata saat berjumpa mungkin sudah membuat ku bangga kadang ku lupa raut wajah mu namun kau slalu menari dalam benaku entah mengapa aku suka melihat perilakumu yang terbuka langkah demi langkah ku tarap hingga pintu itu tertutup rapat terbisik dalam hati suatu saat pasti ketemu kembali #lala

inikahmerdeka

apakah ini yang dinamakan kemerdekaan yang dulu pernah di perjuangan tumpah darah penuh pengorbanan para pejuang meregang nyawa demi tanah air INDONESIA bersanding dengan alunan merdu sang biduan melafalkan lagu terhipnotis belasan botol arak sang pemuda saling jingkrak bukan itu kawan bukan itu yang seharusnya kalian rayakan yang seharusnya kalian rasakan mungkin ruh ruh para pendahulu terisak tangis berselimut haru melihat kalian menenggak ciu mereka mengumpat mengapa dahulu bersedia merelakan nyawaku

sajak sepi

sajak sepi tertelan gelapnya malam berirama sumbang berbait kelam rangkaian kata melahirkan makna yang tersirat tak mampu terbaca sajak sepi tergerus serpihan angin birahi memucak memaksa menulis sajak raga rapuh tak berselimut kain ribuan kata hilang dari dalam benak tak lama untuk menulis barisan kata mulai menangis tak bermakana bak mencaci dari inilah terlahir sajak sepi

langkah

berbinar mata mulai basah waktu tak pasti membuat resah seakan raga tak mampu rebah umpatan bersanding mesra dengan keluh kesah mata tak mampu menampung pilu basah terurai sajak sendu sesak dan pengap menyelimuti kalbu bagai raga rapuh tanpa baju gederang usia di tabuh beralun lirih lamban yang konsisten dengan waktu hingga tua tak mampu ku tolak

kian jauh

sebisik suara rindu singgah senyap di telinga mengingatkan masa dulu kita bersama semerbak aroma wangimu singgah betah di rongga hidungku mengingatkan masa dulu kita berdua cangkir dan cangkir bersanding mesra espresso dan cappuccino betah berdua banyak tawa sedikit duka menemani malam senyap penuh canda sekian lama kita tak berjumpa baikkah kabarmu di ujung sana hanya lewat kata kutulis rindu berjuta kenangan indah bersamamu

Rumasakitumum

wajah kusam para penghuni lorong bilik bersekat kain tiada yang kosong deretan infus beegantung serasi dengan selang menetes dengan perlahan menjemput harapan tak peduli usia ras maupun suku berbaring tenang dengan pilu wajah pucat berharap lekas sembuh meskipun keluarga berkumpul dengan riuh kadang tangis menhiasi sudut telinga dari mereka yang di tinggal tak rela meskipun lebih dulu ke nirwana banyak dari mereka yang tak tega ada pula yang sendu di sudut pintu memikirkan biaya yang tak menentu berharap cemas tak membengkak namun itu demi kesehatan mutlak kesan sosial sangat terasa pada bilik ruang berkelas A namun yang terjadi di kelas ini berserakan nyawa vampire tak terurusi jeritan kaum bawah mulai lelah terdengar sendu membuat resah keadaan ataukah kesengajaan mana janji mu para aktor kesehatan

poluson

tak berfikir saat lelah bukanlah sesuatu yang salah namun akan kecewa di ujung hari mentari mulai sirna sang dewa tak akan berpihak sang malaikatpun juga selak melihat orang tak berfikir melihat mereka terjungkir senyum kecut di ujung pipi melihat penderitaan dalam negri mereka apakah tak peduli sejuta pertanyaan dalam hati kau juragan negri kita tak peduli dengan sesama menghidupkan diri adalah cita cita sesama mati urusan mereka pohon pohon menangis pilu bungan dan rumput jua terharu dengan pemikiran manusia rancu reboisasi tak terealisasi bukan bukan aku namun kadang menggertak kalbu meskipun tak mau mengaku dalam hati kecil berkecamuk pilu