Posts

Showing posts from 2018

PLAN

sore itu tujubelas kosong satu aku menunggu menunggu pesan darimu dari sejam yang lalu aku telah menunggu emosi saat masuk notifikasi saat aku tanya jadi? kau menjawab sesuka hati terasa diri ini tak berguna saat kau berkata "bila cuma berdua aku berani menunda" saat engkau meminta sebisa mungkin aku berusaha namun apa ? hanya rasa kecewa detik menit dan jam mulai ku nalar itu semua idialis yang bicara tak banyak hal bisa lakukan hanya maaf yang TERCIPTA

part 4

selalu sama selalu sama bukan, bukan ini yang kuharap tak ingin aku seperti debu yang singgah di ujung mata mungkin hanya partikel kecil namun slalu menyakitimu tak banyak yang bisa ku perbuat hanya lewat tulisan ini aku ucapkan maaf begitu banyakkah kesalahan ku hingga dirimu tak mampu memaafkan aku berat tak bersapa berat tak berucap namun q sebagai lelaki bila selalu mengalah bagai mana q membela keluarga ku kelak tak mungkin kurela mereka terinjak tak mungkin kurela mereka tertindas q hanya ingin hidup sederhana tanpa ada sekat di antara kita maaf

part 3

sekian hari sekian waktu kulalui sedikit bersamamu tiap hari selalu jumpa tak peduli pagi siang dan malam tak enggan dan tak jemu ku selalu memandang mu ku usap jerawat di hidungmu tanpa mengelak kau tersipu entah apa yang ada di dalam benakmu aku hanya tau hari ini bersama hingga lusa dan seterusnya

part 2

terasa baru sekejap namum memang sekejap ku pegang tangan mu ku tarik lengan bajumu tak banyak yang aku bisa namun aku selalu berusaha tapi entah kenapa wajah riang  bukan untuku mungkin bukan tipe mu yang kau idamkan tiap waktu aku aku aku aku tak tau siapa aku hingga lancang mencitai mu karena saat itu aku suka dan engkau kutanya apakah kau suka dengan apa adanya ? tak tau jawaban itu dari hati atau hanya mengikuti emosi sejak saat itu saat suara barisana kata jawaban iya mengalir lembut menuju gendang telinga kupupuk sanubari hingga berbunga cinta tampa alasan

FIST#1

raut pait wajah manis mu tak mengurangi indah parasmu kliru ucap dari mulutku bukan sengaja menyakitimu berhari tlah terlewati semenjak perjalanan ke panti susuri jalan tanpa henti wajah kusamu setya menemani entah bagaimana caraku untuk meminta maaf padamu semua kata tak kau terima apakah engkau lupa bahwa Gusti kita maha pemaaf kurindu senyumu yang dulu riang terbang tanpa beban meski kadang tersisip kata kata umpatan manis berharap padamu puan menjadi dermaga tambatan terakir dan tak akan berlayar membangun bilik mungil berjuta harapan

FIST#1

raut pait wajah manis mu tak mengurangi indah parasmu kliru ucap dari mulutku bukan sengaja menyakitimu berhari tlah terlewati semenjak perjalanan ke panti susuri jalan tanpa henti wajah kusamu setya menemani entah bagaimana caraku untuk meminta maaf padamu semua kata tak kau terima apakah engkau lupa bahwa Gusti kita maha pemaaf kurindu senyumu yang dulu riang terbang tanpa beban meski kadang tersisip kata kata umpatan manis berharap padamu puan menjadi dermaga tambatan terakir dan tak akan berlayar membangun bilik mungil berjuta harapan

sunset

serpihan doa tak lepas dengan ujung bibir di kala senja nyanyian lembut di lantunkan seraya puja puja akan eloknya suburnya ripahnya negri tercinta kadang pula ada sebaik doa.pengutara cinta

Pantai?

tawa riang para tuna orangtua dirangkul dan gendong pinta mereka entah kemana para wali wajib mereka yang tega menelantarkanya haus akan pelukan dan kasih sayang membuat mereka terdidik tangguh tanpa orang tua rindu akan pelukan dan belaian membuat mereka mampu menghadapi hari pilu tanpa ragu

bembrang

duh gusti perasaan apa ini bagai perahu tanpa dayung tanpa layar bergerak tak menentu tanpa arah dan tujuan bila memang ini jalan mu berikan limpahan petunjukmu berikan banyak anugrahmu memang tak mudah bagiku namun bukan hal sulit bagimu mungkin lewat mimpi ataukah lembaran2 ayat mu yang mulia

laut

bui putih garang menghantam karang horizontal garis jauh mu sayang bernyanyi dengan merdu gelombang tiada insan yang mampu menyamainya kuning cerah di ujung barat sinar terang kau genggam erat dengan tenang kau sambut petang bermandikan cahaya bulan dan gemerlap bintang pantai mbuluk

SIHOAKAD

gejolak batin tak tertandingi antara di cintai dan di restui berjuang dan doa setiap hari demi berlangssungnya janji suci dulu per individu keluarga mu tak setuju kau yakinkan dengan dengan tangis dan haru meskipun penuh luka tak berdarah kau tetap berusaha dan selalu tabah kini janji suci mu akan terucap kalimat sakral segera kau ke'cap hasil dari luka dan lara yang akirnya berbuah manis juga #nikahesiho sekedar menyabung kata menjadi kalimat

apaan

laju pelan angin seakan mulai enggan berhembus pada dahan namun apa daya angin engkau yang menggurkan dahan yang kering lapuk termakan usia sang dahan tak akan marah karena dahan sadare akan masanya begitu pula dengan tanah menerima mu tanpa marah berjuta keluh kesah kau tampung dengan pasrah sekedar menyabung kata menjadi kalimat

rasan krasan 2

semua mulut berbusa setiap hari berkata bagai ombak samudra tak henti bicara gendang telinga bosan bosan dengan keadaan cacian selalu terdengar meskipun tak langsung aku merasa berjuta kamus tak akan mampu menampung seluruh katamu tiap detik engkau bicara bicara dengan orang yang kau sukan meceritakan orang yang tak engkau suka sekedar menyabung kata menjadi kalimat